|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Minggu, 23 November 2008 |
|
Bayangkan negeri ini diperintah oleh para selebriti. Pasti semua rakyat terhibur setiap hari. Hidup tenteram, tak ada demo, tak ada privatisasi dan yang penting, tak ada kenaikan harga BBM dll yang memusingkan. Bagaimana kalau presenter berita SCTV Arief Suditomo kita jadikan presiden yang memimpin sebuah kabinet bernama Kabinet Seleb 2009. Saudara-saudara, dengan ini mari kita umumkan susunan Kabinet Seleb 2003, berdasarkan simulasi yang telah beredar luas di internet hari-hari ini, seiring dengan naiknya harga BBM dll yang makin memberatkan rakyat. Jika demo sudah tidak didengar dan hanya bikin macet saja- maka mending berandai-andai mengganti pemerintah yang sekarang dengan pemerintahan baru yang bercita rasa infotainmen. Dijamin lebih josss.
Presiden: Arief Suditomo (punya jiwa kepemimpinan dan elegan meski kadang-kadang suka grogi sendiri kalau ketemu jaksa agung)
Wakil Presiden: Sandrina Malakiano (pembawaan dan tutur bahasanya kalem, punya jiwa keibuan, dan bisa meneduhkan hati rakyat)
Menko Polkam: Andi Malarangeng (gerak kumisnya mampu membuat ibu-ibu histeris) |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Minggu, 23 November 2008 |
|
Meminjam bahasa sahabat saya, ada kekhawatiran terhadap prilaku sejumlah politisi yang terkesan memalukan dan memilukan. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menjalankan peraturan sesuai amanat perundangan dalam menentukan calon legislatif (Caleg) yang layak masuk dalam Daftar Calon Tetap (DCT), namun tetap saja ada pihak yang keberatan dan melakukan serangkaian protes agar aturan tersebut ditinjau kembali. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Minggu, 23 November 2008 |
|
Hasrat untuk menjadi anggota legislatif (aleg) masih dianggap sebagai lahan yang representatif untuk mengaktualisasikan diri, menampung aspirasi, sekaligus berkontribusi untuk rakyat dan partai yang dikendarainya, namun adakalanya ada pihak yang masih memanfaatkan segala cara untuk mencapai singgasana aleg. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Minggu, 23 November 2008 |
|
Kebebasan berpendapat, menyalurkan aspirasi baik lisan maupun tulisan sejak era reformasi tahun 1998 semakin mencuat dan menuai buahnya, bahkan ada sejumlah pihak yang menganggap kebebasan berekspresi oleh organisasi masyarakat (ormas) dalam bentuk yayasan atau swadaya tertentu sudah terlalu jauh kepada ranah yang harusnya tidak boleh karena menyangkut privasi dan kepentingan berbagai pihak menjurus konflik. Meski kontrol publik terhadap pemerintah telah dijamin dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 melalui kebebasan persnya. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Premanku Ganyang, Premanku Sayang |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Minggu, 23 November 2008 |
|
Maksud pemerintah memberantas preman hingga ke akarnya, mulai mendapat perlawanan dari masyarakat. Para preman kini sibuk mencari perlindungan kepada siapa saja, termasuk warga maupun tokoh masyarakat agar dapat dijadikan tameng, pembenaran aksinya, menyelamatkan diri dan karirnya. Tapi sayangnya, apa yang mereka lakukan tanpa sadar menyeret ranah publik yang berujung pada kerugian sejumlah fasilitas umum tak hanya para pelaku, namun semua penduduk negeri turut menanggung. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
|